Indonesia, negeri yang subur dan kaya raya sumber daya alamnya, tanah air yang selalu aku cintai, lahir dan batin. Malam ini aku termenung untuk sekedar memikirkan bagaimana nasib negeri ini kedepannya, mau kemana bangsa dengan berjuta pengharapan akan kehidupan makmur ini dibawa.? Negeri yang sedang berkembang dengan rakyat yang menggantungkan harapannya pada pemerintahan. Bertanya lagi aku dalam hati, apa kabar Indonesia ku kini.? Sempat aku melupakan tuk sejenak memikirkannya dan lebih memilih bergulat dengan tugas tugas kuliah ku yang kian hari kian menumpuk. Apa kabarnya bangsa ini.? Baik – baik sajakah kita.? Aku yang terkadang bosan memikirkan masa depan bangsa ini karna sudah muak dengan berita korupsi dimana – mana kembali menanyakan ini pada diriku sendiri.
Sedang apakah aku.? Aku seorang mahasiswa yang diharapkan rakyat ku dapat membelanya, tapi terkadang malah aku tak memikirkan nasib mereka. Aku yang dielu – elukan sebagai agen perubahan katanya, masih egois bergelut dengan nyamannya dunia kuliah, dibanding mendengar apa pinta masyarakat itu sendiri terhadap mahasiswa.
Salahkan aku yang memikirkan masa depanku di negeri ini.? Salahkah rakyat yang meletakkan harapannya di pundak mahasiswa.? Merenung aku, selama ini aku hanya menggantungkan semua pada pemerintah, karena benar pemerintah adalah sumber dari segala kebijakan dibuat. Kesejahteraan rakyat Indonesia ada di tangan pemerintah. Ah, aku salah. Aku terlalu percaya terhadap pemerintah, padahal dengan jelas, aku bisa lihat, bahwa mereka sedang tidak baik – baik saja. Aku sadar, Indonesia sedang mencoba bangkit, namun dengan adanya pemerintahan yang seperti ini, sungguh aku pun tau kalau sebenarnya hati merasa miris terhadap rakyat yang berharap banyak terhadap pemerintah.
Bagaimana mungkin aku mengatakan Indonesia baik – baik saja, sementara didekat ku, ada puluhan masalah meminta penyelesaian. Aku lihat generasi muda dibawah ku, dimana masanya mereka menginginkan hiburan yang layak lewat suatu media bernama televisi, namun malah dicekoki dengan cerita yang tak bermoral sama sekali. Bagaimana bisa pemerintah tetap membiarkan sesuatu yang bahkan anak – anak Sekolah Dasar pun enggan menontonnya bahkan mengkritisinya.?
Negeri yang katanya subur kini, perlahan terkikis kesuburannya, akibat kerakusan orang – orang besar diatasnya. Pemerintah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat katanya, tapi apa.? Di sisi mana kita bisa lihat pemerintahan yang pro rakyat.?
Mungkin pemerintah sedang tertidur.
Pemerintah terlihat sangat ingin sekali, mewujudkan tujuannya yang termaktub dalam undang undang, pemerintah ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan memberlakukan sistem pendidikan yang luar biasa hebatnya, namun mereka lupa menanamkan nilai kejujuran didalam sana. Bagaimana bisa mereka tetap bertahan dengan sistem pendidikan itu tanpa menyelidik lanjut, siapa pengedar kunci – kunci jawaban soal ketika ujian nasional.? Lalu, pemerintah kemudian mencoba menanamkan kejujuran lewat pendidikan moral pancasila, atau pendidikan kewarganegaraan, namun dengan bodohnya membiarkan praktisi praktisi negara ini bertindak semena – mena terhadap “kejujuran”. Ah, aku tak habis pikir, kenapa manusia bisa begitu rakus ketika mereka sudah mempunyai lebih apa yang mereka inginkan.? Tetap saja mencoba cari – cari alasan untuk menggembungkan kantong mereka sendiri.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan dijunjung tinggi katanya, tapi pihak atas sana seperti salah mengartikan arti kata adil tersebut. Adil tak selalu sama rata, adil akan lebih indah jika itu diberikan sesuai porsi. Bagaimana bisa kau berikan hukuman yang lebih berat kepada nenek yang hanya mengambil beberapa kayu dengan illegal dibanding pejabat yang makan uang rakyat milyaran bahkan triliyunan rupiah.? Terkadang hati iba, dan bertanya – tanya. “Kapan pemerintah bangun.?”
Kapan pemerintah berhenti untuk sekedar memberi janji - janji dan harapan kepada rakyat miskin yang hanya berpikir untuk makan hari ini, sementara harta mu tak habis tujuh turunan.?
Apa yang akan kau katakan pada pendahulu mu yang dulu berjuang memerdekakan negeri ini sementara kau masih menjajahnya.?
Apa yang bisa kau lakukan kepada anak – anak yang berjuang menuntut ilmu di desa tertinggal di pelosok Indonesia ini, kepada anak – anak yang tidur di kolong jembatan, pengemis disudut kota. Apa.? Apa yang bisa kau lakukan kepada mereka yang berharap kepada pemerintah.?
Apa yang kelak kan kau ceritakan pada Tuhan Mu atas tanggung jawab yang telah dibebankan kepada mu, wahai punggawa pemerintahan.?
Hari kini sudah pagi, terlihat sang mentari bersemangat menyinari sudut kota di Indonesia ku ini. Semalaman aku memikirkan nasib bangsa dan menuangkan opini ku dalam secarik kertas ini. Kini aku tak boleh hanya mengkritik mereka, tidak. Aku harus jua berusaha, menjadi apa yang seharusnya mahasiswa itu lakukan untuk rakyatnya.
Matahari sedang bersinar sangat terik. Apakah ini sudah cukup untuk membangunkan mereka yang mungkin terlena dengan indahnya kekuasaan.?
Apa perlu ada tangisan dari langit yang menyadarkan mereka kalau negeri yang mereka pimpin ini sedang tidak baik – baik saja.? Tidak, kau tidak perlu tunggu tangisan dari langit untuk menggambarkan kesedihan Ibu Pertiwi, karena sesungguhnya akan ada ratusan bahkan ribuan patriot yang akan mengembalikan senyum ibu pertiwi sehingga tanah air ku tak perlu deraian air mata dari langit. Siapakah patriot tersebut.? Mahasiswalah harapan rakyat, lihatlah rakyat mu, jangan kau gantungkan nasibmu hanya pada pemerintah karena mungkin kini mereka sedang tuli, mungkin mereka buta dengan apa yang ada disekitar. Tapi kau mahasiswa, bergeraklah, berjuang demi senyuman Ibu pertiwi.
Hidup Mahasiswa Indonesia ! Kau tak boleh menangis wahai Indonesia ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar