Terduduk lesu,
Seorang gadis ,
Ditengah keramaian manusia,
Sendiri,
Di sudut kota,
Di malam yang gemerlap oleh cahaya lampu neon yang terpasang di sepanjang jalannya,
Ia diam,
Sambil terus menunduk,
Entah apa yang dilihatnya,
Namun ia mulai menggumam,
Sangat pelan,
Memastikan tak akan ada yang dengar apa yang ia keluhkan,
Ia mengeluh kepada tuhannya,
Ya seperti ini kiranya : “ tuhaaan, apa yang terjadi dengan dunia mu ini?”
Seolah merasa tuhan menjawab tanyanya,
Ia kembali meneruskan “dunia mu begitu berbeda, dengan manusia manusia luar biasa didalamnya, dunia mu terasa amat gersang”
Ia diam,
Hening,
Dengan orang tetap lalu lalang didepannya.
Dilanjutkannya “dunia mu begitu hebat, kemajuan yang ada begitu pesat, ahh aku tak bisa mengikuti lajunya”
Ia hampir berteriak,
Namun segera sadar,
Orang orang yang lalu lalang sedari tadi,
Pasti akan lebih heran,
Apa yang dilakukan gadis ini tanpa baju hangat, ditengah musim dingin ini.
Ia tetap melanjutkan percakapannya dengan tuhannya,
Ia rasa hanya tuhan yang mengerti, pasti.
“Bagaimana bisa Tuhan, aku yang seperti ini, aku yang ingin bersosialisasi, kini tidak bisa lagi memasuki kawanan kawanan manusia, manusia terasa begitu asing, apa yang mereka lakukan kini sangat aneh,”
“Bagaimana bisa, ketika sekelompok orang berkumpul, mereka tak bercengkrama, tapi saling diam, hening, mereka senyum bahkan tertawa sendiri dengan apa yang ditangannya”
“dunia mu tak lagi senyaman dimana aku bisa bermain sepulang sekolah dengan mereka yang benar benar nyata, tak hanya raganya namun juga pikirannya yang berada di tempat aku bermain”
Seorang gadis ,
Ditengah keramaian manusia,
Sendiri,
Di sudut kota,
Di malam yang gemerlap oleh cahaya lampu neon yang terpasang di sepanjang jalannya,
Ia diam,
Sambil terus menunduk,
Entah apa yang dilihatnya,
Namun ia mulai menggumam,
Sangat pelan,
Memastikan tak akan ada yang dengar apa yang ia keluhkan,
Ia mengeluh kepada tuhannya,
Ya seperti ini kiranya : “ tuhaaan, apa yang terjadi dengan dunia mu ini?”
Seolah merasa tuhan menjawab tanyanya,
Ia kembali meneruskan “dunia mu begitu berbeda, dengan manusia manusia luar biasa didalamnya, dunia mu terasa amat gersang”
Ia diam,
Hening,
Dengan orang tetap lalu lalang didepannya.
Dilanjutkannya “dunia mu begitu hebat, kemajuan yang ada begitu pesat, ahh aku tak bisa mengikuti lajunya”
Ia hampir berteriak,
Namun segera sadar,
Orang orang yang lalu lalang sedari tadi,
Pasti akan lebih heran,
Apa yang dilakukan gadis ini tanpa baju hangat, ditengah musim dingin ini.
Ia tetap melanjutkan percakapannya dengan tuhannya,
Ia rasa hanya tuhan yang mengerti, pasti.
“Bagaimana bisa Tuhan, aku yang seperti ini, aku yang ingin bersosialisasi, kini tidak bisa lagi memasuki kawanan kawanan manusia, manusia terasa begitu asing, apa yang mereka lakukan kini sangat aneh,”
“Bagaimana bisa, ketika sekelompok orang berkumpul, mereka tak bercengkrama, tapi saling diam, hening, mereka senyum bahkan tertawa sendiri dengan apa yang ditangannya”
“dunia mu tak lagi senyaman dimana aku bisa bermain sepulang sekolah dengan mereka yang benar benar nyata, tak hanya raganya namun juga pikirannya yang berada di tempat aku bermain”
ia ingin terus bercerita,
namun ternyata,
malam itu benar,
dingin,
kalau gadis itu tahu,
suhu malam ini sangat dingin,
ia pasti tak kan keluar rumah tanpa baju hangat.
namun ternyata,
malam itu benar,
dingin,
kalau gadis itu tahu,
suhu malam ini sangat dingin,
ia pasti tak kan keluar rumah tanpa baju hangat.
beranjak dari tempat ia duduk,
ia memutuskan untuk pulang,
sepanjang jalan,
ia tetap terus bercerita,
“aku ingin bermanfaat, tapi aku terhalang dengan teknologi, aku bukan tak mau tuhan, tapi aku tak bisa paksakan semesta ku untuk bisa ikuti arus dunia global ini, aku sadar, kini manusia tanpa teknologi bukan apa – apa, tapi aku juga tak bisa paksakan lebih dari raga ku ini, aku juga masih ingin kumpul yang nyata.”
“Maaf jikalau aku merasa dunia mu kini kejam, abad 21 ini belum bisa ku terima, aku tunggu semesta mendukung ku Tuhan, mungkin aku bisa ikuti pergerakan dunia ini, walau aku tak tahu kapan”
ia memutuskan untuk pulang,
sepanjang jalan,
ia tetap terus bercerita,
“aku ingin bermanfaat, tapi aku terhalang dengan teknologi, aku bukan tak mau tuhan, tapi aku tak bisa paksakan semesta ku untuk bisa ikuti arus dunia global ini, aku sadar, kini manusia tanpa teknologi bukan apa – apa, tapi aku juga tak bisa paksakan lebih dari raga ku ini, aku juga masih ingin kumpul yang nyata.”
“Maaf jikalau aku merasa dunia mu kini kejam, abad 21 ini belum bisa ku terima, aku tunggu semesta mendukung ku Tuhan, mungkin aku bisa ikuti pergerakan dunia ini, walau aku tak tahu kapan”
Ini buatan sendiri ? Bagus keren inspiring
BalasHapusiya boss, buatan sendiri :))
Hapushaha
makasih yaa ^^
Boleh di copas haha, diletakan di blogku ? tetap menautkan namamu
BalasHapusBoleh banget
HapusSuatu kehormatan bagi ku
Haha